Penyebab dan Gejala Penyakit Ejakulasi Dini maupun Cara Penyembuhannya

Pengertian Ejakulasi Dini
Ejakulasi dini (premature ejaculation) adalah suatu gangguan yang terjadi pada seksual. Hal ini dapat menyebabkan masalah ejakulasi yang terjadi sebelum waktu yang diinginkan. Hal seperti ini dapat membuat penis lemas (yakni flaccid), sehingga untuk penetrasi akan lebih sulit untuk dilakukan.

Sekitar 1 diantara 3 pria yang memiliki usia sekitar lebih dari 18 tahun akan mengalami masalah ejakulasi dini terhadap satu titik di dalam kehidupan mereka. Kondisi seperti ini bisa menimbulkan masalah stres, yang terjadi terhadap pria ataupun dengan pasangan wanitanya.




Gejala Ejakulasi Dini
Gejala terkait ejakulasi dini tidak bisa terlihat yang secara spesifik. Hal seperti ini kecuali pendapat yang subjektif terkait kondisi keluarnya suatu semen (air mani) yang telah dianggap terlalu cepat. Orang yang sedang mengalami masalah ejakulasi dini umumnya akan mencari pertolongan menurut keluhan pribadi ataupun pasangan, yang berhubungan dengan masalah disfungsi seksual (disfungsi ereksi), dan terkait masalah yang ada saat berhubungan intim.

Keluhan yang disampaikan akan mencakup anggapan pribadi mengenai masalah ejakulasi dini. Mulai dari waktu penetrasi sampai mengalami keluarnya air mani, beberapa langkah yang telah dilakukan agar dapat menunda ejakulasi, sampai dampaknya terhadap maslaah hubungan interpersonal maupun kondisi kualitas hidup.


Penyebab Ejakulasi Dini
Secara fisik, masalah ejakulasi yang dikendalikan karena zat kimia yang terhadap otak, yakni serotonin. Jika kadar serotonin ataupun fungsinya tidak normal, masalah ejakulasi dini akan sangat mungkin terjadi.

Faktor fisik lainnya yang memiliki peran yakni terhadap ejakulasi dini yaitu:
  • Prostatitis kronis, yakni peradangan prostat menahun.
  • Gangguan tiroid, yakni kelenjar tiroid terlalu aktif ataupun kurang aktif.
  • Penyakit diabetes dan hipertensi.
  • Merokok, konsumsi alkohol berlebih, maupun mengkonsumsi obat-obat terlarang.
  • Disfungsi ereksi. Pria yang mengalami disfungsi ereksi lebih cenderung mengalami ejakulasi dini sebelum kondisi ereksi berakhir.
  • Penis yang sangat sensitif ataupun ditemukan aktivitas refleks yang tidak normal terhadap sistem ejakulasi.

Sedangkan faktor psikologis yang bisa menyebabkan masalah ejakulasi dini biasanya memiliki hubungan dengan:
  • Stres dan depresi.
  • Masalah dalam hubungan dengan pasangan.
  • Cemas terhadap kondisi performa seksual, terutama terhadap permulaan hubungan yang masih baru, ataupun saat seorang pria sudah mempunyai riwayat masalah saat performa seksual.
  • Trauma seksual di masa lampau.


Diagnosis Ejakulasi Dini
Pria yang dianggap sedang mengalami masalah ejakulasi dini jika:
  • Ejakulasi yang selalu ataupun terjadi hampir selalu yang kondisinya sangat kurang dari sekitar satu menit sesudah kondisi penetrasi vagina sejak pertama kali melakukan hubungan intim. Kondisi seperti ini telah dikenal dengan istilah masalah ejakulasi dini primer ataupun bawaan.
  • Ejakulasi yang sangat singkat, yakni yang durasi yang kurang 3 (tiga) menit sesudah penetrasi terhadap vagina. Kondisi seperti ini dikenal luas oleh masyarakat dengan sebutan ejakulasi dini sekunder.
  • Tidak mampu menahan kondisi ejakulasi terhadap semua ataupun hampir seluruh penetrasi vagina.
  • Menimbulkan konsekuensi yang negatif secara pribadi. Hal ini misalnya frustasi, stres, cemas, serta akan selalu menghindari hubungan intim.
Pengertian tersebut hanya akan berlaku untuk masalah hubungan intim yang sesungguhnya. Hal ini yang akan dilakukan oleh pria dengan wanita. Dengan kata lain, maka untuk pengertian tersebut tidak dapat digunakan dalam menggambarkan situasi ejakulasi karena adanya perangsangan yang terjadi di diri sendiri, misalnya seperti onani ataupun masturbasi.

Untuk proses masalah dari diagnosis terkait ejakulasi dini, maka tim dokter akan melakukan serangkaian wawancara yang dilakukan secara medis dilakukan secara mendalam terkait keluhan, maupun riwayat seksual atau terkait psikososial, serta juga terkait riwayat dari penyakit yang telah diderita oleh pasien di masa lampau.

Pemeriksaan fisik yang terhjadi di ejakulasi dini umumnya akan terpantau secara normal, dengan arti tidak akan menunjukkan kondisi suatu kelainan anatomi tertentu. Pemeriksaan fisik utamanya akan menilai fungsi saraf, tungkai bawah, perut, maupun alat kelamin.

Sampai sekarang ini tidak ditemukan pemeriksaan khusus untuk dapat mengonfirmasi terkait ejakulasi dini. Pemeriksaan laboratorium ataupun penunjang akan dilakukan apabila kondisi ejakulasi dini yang dicurigai sebagai suatu akibat dari kondisi kelainan fisik, bukan karena faktor psikologis.


Pengobatan Ejakulasi Dini
Penanganan ejakulasi dini akan melibatkan antara pasangan seksual yang terjadi sejak awal masa pengobatan. Pilihan terapi akan bergantung dengan tingkat keparahan gejala yang terjadi, dampak psikososial, efek samping pengobatan, penyebab yang kemungkinan bisa dikoreksi, maupun pilihan pasien.

Pengobatan terhadap ejakulasi dini yang mencakup:

Psikoterapi
Psikoterapi yakni suatu terapi secara psikologis seperti konseling maupun reassurance (menguatkan). Jenis terapi seperti ini adalah terapi utama terhadap masalah ejakulasi dini. Namun, diperlukan waktu yang sangat lama serta biaya mahal. Kepatuhan maupun konsistensi dari pasangan terhadap masalah terapi pun sangat dibutuhkan.

Psikoterapi akan lebih efektif apabila masalah ejakulasi yang terjadi sejak dini mempunyai subjektif maupun dijumpai faktor psikologis yang sangat jelas untuk penyebab utama. Terapi seperti ini pun bisa dikombinasikan dengan jenis obat-obatan yang khusus terhadap masalah ejakulasi dini.

Obat-obatan
  • Anestesi topikal. Pemakaian anestesi topikal (yakni krim lidokain) yang akan dioleskan terhadap kepala penis. Hal ini mampu menurunkan sensasi akibat masalah stimulasi seksual. Krim ini pun mampu diserap vagina, wanita pun mampu mengalami kondisi masalah penurunan akibat sensasi seksual. Pemakaian obat krim anestesi topikal bisa menjadi lebih efektif apabila telah dikombinasikan oleh pemakaian kondom.
  • Antidepresan. Pemberian antidepresan yang sangat efektif untkda dapat mengatasi masalah ejakulasi dini. Antidepresan bisa memperpanjang durasi waktu sejak kondsii seorang pria telah terangsang sampai ejakulasi.

Antidepresan yang paling sering digunakan yaitu golongan SSRIs (selective serotonin reuptake inhibitors). Misalnya sertraline, citalopram, fluoxetine, dan paroxetine. Karena jenis obat-obatan ini dapat bekerja di bagian otak, pemakaiannya pun sangat terbatas serta yang harus disertai dengan resep dokter. Obat-obatan seperti ini baru akan diberikan jika terapi lainnya tidak berhasil.

  • Sildenafil. Sildenafil ataupun Viagra® dapat membantu terkait masalah ereksi. Hal ini dilakukan untuk dapat meningkatkan kondisi aliran darah menuju penis. Obat seperti ini tidak akan menghambat masalah ejakulasi. Sehingga tidak dapat dipakai untuk dapat mengobati masalah ejakulasi dini. Namun, obat seperti ini bisa membantu apabila pria mengalami masalah disfungsi ereksi maupun masalah ejakulasi dini yang bersamaan.


Penanganan di rumah Ejakulasi Dini
Beberapa tindakan yang bisa dilakukan agar dapat mengatasi masalah ejakulasi dini. Hal ini sebelum mencari tindakan pertolongan medis, yaitu:
  • Masturbasi 1 hingga 2 jam sebelum melakukan hubungan intim.
  • Memakai kondom tebal agar dapat mengurangi sensasi pada penis.
Tarik napas yang dalam dengan waktu singkat mampu menghentikan refleks akibat ejakulasi.
Saat melakukan hubungan intim, maka lakukan istirahat sejenak serta mencoba untuk mengalihkan pikiran pasien ke berbagai hal yang sangat membosankan supaya kondisi sensasi penis menjadi berkurang.
Berhubungan intim dengan posisi wanita di atas.
Lakukan metode untuk mengontrol diri dengan teknik-teknik berikut:

Squeeze. 
Anda maupun pasangan yang telah menstimulasi organ penis sampai terasa hampir mengalami ejakulasi, kemudian segera berhenti. Tekan kepala penis sekitar 10-20 detik. Kemudian lepaskanlah serta tunggulah sampai mencapai 30 detik sebelum kondisi stimulasi diulangi. Proses ini dilakukan beberapa kali, sebelum akhirnya ejakulasi.


Stop-start. Teknik seperti ini hampir sangat mirip dengan berbagai teknik squeeze. Akan tetapi tidak terdapat adanya penekanan yang terjadi pada kepala penis.
Kapan harus ke dokter
Segeralah mencari pertolongan apabila kondisi ejakulasi dini yang bisa menjadi  stres secara berlebihan ataupun masalah frustasi, dan hal ini dapat mengganggu masalah hubungan interpersonal terhadap pasangan anda, dan dapat membuat Anda dapat menghindari masalah hubungan intim.


Pencegahan Ejakulasi Dini
Sebagian besar kasus ejakulasi dini dapat dicegah dengan memperbaiki komunikasi interpersonal dan bersikap terbuka dengan pasangan. Tindakan seperti ini akan membuat kondisi pada kedua belah pihak mengetahui hal apa saja yang sangat diharapkan antara masing-masing di dalam suatu kondisi hubungan intim. Pihak dari pria juga akan memiliki rasa percaya diri yang lebih untuk melakukannya.

Cara lain agar dapat mencegah masalah ejakulasi dini yakni dengan cara melatih kondisi beberapa otot yang ada pada rongga panggul, lewat latihan kegel, dan yang mempunyai kondisi waktu tidur malam cukup serta berkualitas. Kurang tidur mampu menurunkan kondisi kadar serotonin yang ada di dalam otak sehingga masalah kondisi ejakulasi dapat terjadi sangat cepat.