Penyakit Anhidrosis Serta Proses Penyembuhannya [Terlengkap]

Pengertian Anhidrosis
Anhidrosis merupakan suatu istilah yang dipakai untuk menggambarkan suatu keadaan yang dimana tubuh tidak dapat berkeringat. Istilah seperti ini tidak sama dengan penyakit hipohidrosis, yang dimana seseorang mampu memproduksi keringat akan tetapi dengan lebih sedikit dari kondisi orang normal.
Berkeringat sendiri adalah suatu mekanisme yang sangat penting terhadap tubuh untuk dapat membuang kelebihan panas pada tubuh serta untuk menghindari terjadinya kondisi overheat pada tubuh. Ketika suhu tubuh terjadi peningkatan, maka sistem saraf autonom memberikan suatu sinyal kepada kelenjar ekrin sehingga memproses keluarnya keringat.

Keringat yang keluar lewat permukaan kulit akan mengalami evaporasi, sehingga dapat membantu pendinginan tubuh. Diperkirakan, keringat yang berukuran satu kacang polong dapat menurunkan suhu pada tubuh sekitar 1 liter darah yang sebanyak 10 Fahrenheit atau kira-kira sekitar 0.50 Celcius.
Ketidakmampuan mengatur suhu pada tubuh akibat tidak terjadi produksi keringat bisa menyebabkan overheating serta heat stroke. Kondisi seperti ini sangat berpotensi mengancam nyawa.


Penyebab Anhidrosis
Terdapat beberapa kemungkinan dari penyebab anhidrosis. Beberapa orang dilahirkan dengan kondisi seperti ini, sementara terhadap orang lain dengan kondisi anhidrosis bisa muncul di kemudian hari karena masalah yang terjadi pada sistem saraf ataupun kulit.
Berbagai kemungkinan dari penyebab penyakit anhidrosis, yaitu:
  • Penyakit ataupun masalah yang terjadi pada kulit yang dapat menyebabkan tersumbatnya lubang pori-pori pada kulit, merupakan salah satu penyebab utama penyakit anhidrosis. Misalnya psoriasis, yaitu sumbatan yang terjadi akibat sel kulit mati, serta infeksi bakteri.
  • Kerusakan pada kulit, misalnya seperti luka bakar (karena suhu panas berlebih, listrik, bahan kimiawi), jaringan parut (scar), radiasi, trauma, dan sebagainya.
  • Obat-obatan, misalnya seperti anti-kolinergik (biasanya dipakai untuk anti-depresan, anti-psikotik), calcium channel blocker, botulinum toxin tipe A, morfin, carbonic anhydrase inhibitor, dan lain-lain.
  • Kelainan bawaan. Misalnya seperti Fabry disease, hypohydrotic ectodermal dysplasia yang dapat menyebabkan seseorang lahir tanpa memiliki kelenjar keringat ekrin.
  • Kerusakan pada sistem saraf, khususnya yang memiliki hubungan dengan sistem saraf autonom. Contohnya seperti diabetes, gout, defisiensi vitamin B, alkoholisme,
  • Horner syndrome, Guillain Barre Syndrome, dan sebagainya.
  • Dehidrasi, terutama yang sedang berlangsung lama, sehingga seseorang telah kehilangan banyak cairan dari dalam tubuh sehingga tidak mampu lagi menghasilkan keringat.
  • Faktor risikonya antara lain akibat tidak cukup minum, diare, muntah berlebihan, serta mengonsumsi obat diuretik.
  • Terkena heat stroke.
  • Berbagai penyakit lain, misalnya seperti Ross syndrome, kanker paru, scleroderma, amyloidosis, Sjogren’s syndrome, dan sebagainya.

  • Diagnosis Anhidrosis
    Untuk menentukan diagnosis anhidrosis, maka akan dilakukan evaluasi secara lengkap yang mencakup antara lain:
  • Anamnesis: seputar riwayat penyakit yang dialami, tanda maupun gejala yang telah dirasakan.
  • Pemeriksaan fisik: terutama untuk melihat terdapat kelainan di bagian area kulit yang tidak mengeluarkan keringat
  • Pemeriksaan penunjang: Quantitative Sudomotor Axon Reflex Test (QSART) agar menilai saraf autonom yang dapat mengatur kadar keringat, sweat test dengan cara pemberian obat tertentu ataupun dengan dimasukkan ke dalam ruangan tertentu untuk dapat menilai bagian tubuh yang mengeluarkan keringat.

  • Gejala Anhidrosis
    Gejala anhidrosis bisa dirasakan di area tubuh tertentu saja ataupun di seluruh tubuh. Apabila hanya pada bagian tertentu, maka bisa jadi penderitanya tidak dapat menyadari kelainan ini. Jika anhidrosis hanya ditemukan di sebagian tubuh, maka bagian tubuh lainnya bisa memproduksi keringat secara berlebih sebagai mekanisme kompensasi.

    Gejala yang mungkin dapat dirasakan yaitu:
  • Tidak ditemukannya keringat, terutama ketika sedang beraktivitas ataupun tubuh sedang terpapar panas
  • Pusing dan rasa lemas
  • Flushing
  • Sensitivitas terhadap kondisi kenaikan suhu karena kondisi ketidakmampuan untuk dapat mendinginkan tubuh
  • Terdapat beberapa gejala yang harus diwaspadai serta sebaiknya dievaluasi oleh dokter. Contohnya peningkatan pada detak jantung, merasa mual dan muntah, kehilangan keseimbangan dan pusing, lemas.

    Pengobatan Anhidrosis
    Biasanya, pengobatan anhidrosis dapat disesuaikan dengan penyebabnya. Akan tetapi, penyebab anhidrosis tidak selalu bisa diketahui dengan pasti, pada kasus seperti itu sangat sulit untuk mengatasi kondisi seperti ini. Bagi penderita yang dimana penyebab anhidrosis tidak dapat diketahui, biasanya sangat disarankan untuk selalu menghindari aktivitas serta tempat yang mampu meningkatkan suhu dari tubuh (misalnya seperti tempat panas, dan sebagainya).