Pengertian, Ciri-Ciri, Struktur, Serta Fungsi Sel Eukariotik Dan Bagian-Bagiannya

Apa sajakah yang termasuk ke dalam sel eukariotik itu? Berikut ini merupakan penjelasan yang lengkap mengenai pengertian, ciri-ciri, struktur, serta fungsi dari sel eukariotik dan bagian-bagiannya. Ciri ataupun karakteristik utama sel eukariotik yaitu mempunyai membran inti sel (membran nukleus). Membran ini akan memisahkan materi genetik (DNA) yang ada di dalam inti sel dengan sitoplasma.
Selain itu, sel eukariotik pun memiliki sistem endomembran yaitu organel-organel sel yang memiliki membran misalnya seperti retikulum endoplasma, mitokondria, kompleks golgi, serta lisosom. Eukariotik melingkupi makhluk hidup yang memiliki sel satu (tunggal) serta memiliki sel banyak.
Contoh organisme atau makhluk hidup yang mempunyai jenis sel eukariotik diantaranya yaitu kingdom protista (protista yang mirip seperti jamur, protozoa, alga/ganggang), hewan, fungi/jamur, tumbuhan, dan manusia. Supaya Anda dapat lebih memahami mengenai gambaran eukariotik, maka simaklah beberapa ulasan di halaman ini.



Penjelasan Mengenai Pengertian, Ciri-Ciri, Struktur, Serta Fungsi Dari Sel Eukariotik Dan Bagian-Bagiannya
Pengertian Serta Ciri-Ciri Dari Sel Eukariotik
Istilah dari eukariotik yang berasal dari bahasa Yunani antara lain eu serta karyon. Eu yang arti sesungguhnya serta karyon yang artinya inti sel. Pengertian dari sel eukariotik yaitu sel yang mempunyai membran nukleus atau membran inti sel. Membran itu akan memisahkan suatu cairan yang ada di dalam inti sel yaitu (nukleoplasma) dengan suatu cairan yang terdapat di luar nukleus (sitoplasma) sehingga untuk inti sel akan kelihatan lebih jelas. Ciri-ciri dari sel eukariotik antara lain yaitu:
  • Sitoplasma dan nukleoplasma terpisah.
  • Bahan gen di dalam inti sel.
  • DNA berada di dalam nukleolus
  • Memiliki organel seperti retikulum endoplasma, ribosom, golgi, mitokondria, serta kloroplas pada tumbuhan.
  • Bahan gen (DNA) misalnya seperti pita ganda serta tersusun spiral yang saling melilit (double helix).

  • Struktur Serta Fungsi Dari Sel Eukariotik Dan Bagian-Bagiannya
    Struktur serta fungsi dari sel eukariotik akan lebih kompleks jika dibandingkan dengan sel prokariotik. Ukuran selnya juga berbeda, dan cenderung lebih besar 10 mikrometer hingga 100 mikrometer, sedangkan untuk sel prokariotik 0,2 mikrometer hingga 5 mikrometer. Berikut ini kita akan membahas bagian-bagian dari sel eukariotik yang mencakup membran plasma, sitoplasma, serta organel-organelsel seperti ribosom, badan mikro, kompleks Golgi, mitokondria, lisosom, dan mikrotubulus) dan fungsinya.
    1. Membran Sel (Selaput Plasma)
    Membran sel adalah suatu bagian yang terluar dari sel yang membatasi suatu bagian yang ada di dalam sel dengan kondisi lingkungan luar. Pada organisme yang memiliki dinding sel misalnya seperti tumbuhan, maka membran sel ini akan terletak di bagian sebelah sisi dalamnya. Membran sel seperti selaput selektif permeabel, yang artinya hanya mampu dilalui oleh molekul-molekul tertentu misalnya seperti gliserol, glukosa, asam amino, serta berbagai ion. Fungsi dari membran sel antara lain yaitu:
  • Sebagai batas antar sel.
  • Sebagai reseptor atau penerima suatu rangsangan dari luar, misalnya seperti hormon serta bahan kimia lain dari bagian lingkungan luar ataupun dari bagian lain dari dalam organisme itu sendiri.
  • Melindungi supaya isi sel tidak akan keluar meninggalkan sel.
  • Mengontrol zat-zat yang hanya boleh masuk ataupun keluar untuk meninggalkan sel. Hal inilah yang dapat menyebabkan suatu membran plasma memiliki semipermeabel (selektif permeabel).
  • Sebagai tempat terjadinya maka kegiatan biokimiawi, misalnya seperti reaksi oksidasi serta respirasi.


  • Menurut analisis kimiawi yang dapat diketahui bahwa hampir semua struktur membran sel yang terdiri dari lapisan protein serta lapisan lipid (lipoprotein). Membran plasma yang terdiri dari dua lapisan, antara lain yaitu lapisan lipid yang rangkap dua (lipid bilayer). Lapisan lipid yang disusun oleh fosfolipid.
    Fosfolipid yaitu lipid yang memiliki kandungan gugus fosfat serta terdiri dari bagian kepala (polar head) serta ekor (nonpolar tail). Bagian kepala memiliki sifat hidrofilik yaitu suka dengan air, sedangkan yang bagian ekor memiliki sifat hidrofobik yaitu tidak suka dengan air). Lipid terdiri atas fosfolipid, glikolipid, serta sterol.
  • Fosfolipid, yaitu lipid yang mengandung gugusan fosfat.
  • Glikolipid, yaitu lipid yang mengandung karbohidrat.
  • Sterol, yaitu lipid alkohol terutama kolesterol.
  • Lapisan protein yaitu membran sel terdiri yang terdiri dari glikoprotein. Lapisan protein akan membentuk 2 jenis lapisan, antara lain yaitu ekstrinsik atau lapisan protein perifer serta intrinsik atau lapisan protein integral. Lapisan protein perifer yang membungkus di bagian kepala atau polar head yaitu lipid rangkap dua di bagian luar. Lapisan protein integral yang membungkus bagian kepala atau polar head yaitu lipid rangkap dua di bagian dalam.
    Membran plasma memiliki sifat selektif permeabel yaitu semipermeabel atau  semipermeable yang artinya adalah membran plasma yang dapat dilalui oleh molekul ataupun ion tertentu. Perpindahan molekul ataupun ion yang melewati membran terdapat dua bagian, yaitu transpor pasif serta transpor aktif.
  • Transpor pasif yaitu suatu perpindahan molekul ataupun ion tanpa memakai energi sel. Perpindahan molekul itu terjadi dengan cara spontan dari konsentrasi tinggi menuju rendah. Contoh transpor pasif yaitu difusi dan osmosis.
  • Transpor aktif yaitu suatu perpindahan molekul ataupun ion memakai energi dari sel itu. Contoh transpor aktif yaitu endositosis, pompa ion natrium (Na+) atau kalium (K+), dan eksositosis.

  • 2. Sitoplasma
    Sitoplasma adalah suatu materi pengisi antara inti dengan selaput plasma. Sitoplasma yang terdapat dalam nukleus dikenal dengan sebutan nukleoplasma. Pada sel tumbuhan, sitoplasma dapat dibedakan menjadi dua bagian, antara lain yang berbatasan dengan selaput plasma dikenal dengan sebutan ektoplasma serta yang ada di bagian dalam dikenal dengan sebutan endoplasma. Ektoplasma lebih jernih serta kompak.


    Ektoplasma yang ada pada sel hewan merupakan selaput plasma itu sendiri. Endoplasma sel tumbuhan memiliki kandungan yang banyak plastida (zat warna). Komponen utama penyusun dari sitoplasma antara lain :
  • Cairan seperti gel (seperti agar-agar ataupun jeli) yang dikenal dengan sebutan sitosol.
  • Substansi simpanan yang ada di dalam sitoplasma. Substansi ini memiliki variasi yang tergantung dengan tipe selnya. Sebagai contoh, untuk sitoplasma sel hati mempunyai kandungan simpanan berupa molekul glikogen, sedangkan untuk sitoplasma sel lemak mempunyai kandungan tetesan lemak yang besar.
  • Jaringan yang strukturnya misalnya seperti filamen (benang) serta serabut yang saling berhubungan. Jaringan benang maupun serabut dikenal dengan sebutan sitoskeleton yang memiliki fungsi untuk kerangka sel.
  • Organel-organel sel.
  • Matriks sitoplasma ataupun bahan dasar sitoplasma dikenal dengan sebutan sitosol. Sitoplasma dapat berubah bentuk mulai dari fase sol menjadi gel ataupun sebaliknya. Matriks sitoplasma yang tersusun dari hidrogen 10%, oksigen sekitar 62%, karbon 20%, serta nitrogen 3% yang tersusun di senyawa organik serta anorganik. Unsur-unsur lain yaitu kandungan: K 0,11%; Na 0,10%; Mg 0,07%; Ca 2,5%; P 1,14%; Cl 0,16%; S 0,14%; I 0,014%; Fe 0,10%; serta unsur-unsur lain yang ada dengan jumlah yang sangat kecil. Sifat-sifat fisikawi dari matriks sitoplasma yaitu:
  • Efek Tyndal adalah suatu kemampuan matriks sitoplasma untuk dapat memantulkan cahaya.
  • Gerak Brown adalah suatu gerak secara acak (zig-zag) partikel yang ada di dalam penyusun koloid.
  • Gerak siklosis adalah suatu gerak matriks pada sitoplasma yaitu arus yang melingkar.
  • Memiliki tegangan permukaan.
  • Elektrolit yaitu suatu kemampuan molekul untuk menghantarkan arus listrik.
  • Matriks sitoplasma mampu bertindak untuk larutan penyangga (buffer). Sifat biologis yang ada pada matriks sitoplasma yaitu kemampuan untuk dapat mengenali rangsangan (iritabilitas) serta untuk mengantar rangsangan (konduktivitas). Adapun fungsi dari sitoplasma (sitosol) yaitu sebagai berikut :
  • Sumber bahan kimia penting untuk sel karena di dalamnya ditemukan senyawa-senyawa organik yang terlarut, ion-ion, gas, molekul kecil misalnya seperti garam, nukleotida, asam lemak, asam amino, molekul besar misalnya seperti protein, serta RNA yang membentuk koloid.
  • Tempat terjadinya reaksi metabolisme, misalnya seperti glikolisis, sintesis protein, serta sintesis asam lemak.
  • Membantu pergerakan organel-organel di dalam aliran sitoplasma.
  • Sebagai tempat untuk penyimpanan bahan kimia yang sangat vital untuk melakukan metabolisme sel, misalnya seperti protein, lemak, serta enzim.
  • Menjaga keseimbangan air yang ada di dalam sel.
  • Pelarut senyawa dan protein di dalam sel.
  • Sebagai tempat organel-organel sel.
  • Sebagai penghantar listrik.
  • Membantu interaksi sel dengan lingkungan di luarnya.

  • 3. Sitoskeleton
    Sitoskeleton ataupun rangka sel yang tersusun dari tiga jenis serabut berbeda antara lain serabut mikrofilamen, mikrotubulus, serta serabut filamen intermediar. Fungsi utama dari sitoskeleton untuk dapat menyokong serta untuk mempertahankan bentuk sel.


  • Mikrofilamen
  • Mikrofilamen yaitu suatu rantai ganda protein bertaut dan tipis. Mikrofilamen yang tersusun dari dua jenis protein, antara lain aktin dan miosin. Mikrofilamen banyak ditemukan di sel-sel otot. Mikrofilamen memiliki diameter sekitar 7 nm sehingga pengamatannya diharuskan memakai mikroskop elektron. Fungsi dari mikrofilamen yaitu untuk rangka sel (sitoskeleton) serta memiliki peran yang penting untuk proses endositosis, eksositosis, serta kontraksi otot.
  • Mikrotubulus
  • Mikrotubulus yaitu rantai-rantai protein berbentuk spiral. Spiral ini membentuk seperti tabung yang berlubang dan panjangnya bisa mencapai hingga 2,5 mm dan diameter sekitar 25 nm. Mikrotubulus yang tersusun dari protein yang dikenal dengan sebuta tubulin. Mikrotubulus merupakan penyusun dari sitoskeleton yang terbesar.

    Mikrotubulus ditemukan di gelendong sel, yaitu seperti benang-benang spindel yang saling menghubungkan dua kutub sel saat sel membelah. Gerakan kromosom dari daerah ekuator menuju kutub masing-masing di anafase yang dikendalikan oleh mikrotubulus.
    Fungsi mikrotubulus yaitu untuk kerangka sel (sito skeleton) dan mampu untuk memelihara bentuk sel supaya tetap, dan membantu transportasi zat, untuk komponen utama pada penyusun silia, flagel, serta sentriol dan benang-benang spindel selama masa berlangsungnya pembelahan sel, dan mengarahkan gerakan pada komponen-komponen sel, dan mempertahankan bentuk sel, serta untuk membantu dalam pembelahan mitosis.

  • Filamen Intermediar
  • Filamen intermediar yaitu suatu rantai molekul protein yang dapat membentuk untaian yang saling melilit. Filamen ini memiliki diameter sekitar 8 – 10 nm. Disebut juga dengan serabut intermediar karena memiliki ukuran diantara ukuran mikrofilamen serta mikrotubulus.

    Serabut ini yang tersusun dari protein yang dikenal dengan sebutan fimentin, namun tidak semua sel filamen dari intermediarnya tersusun dari fimentin. Misalnya sel kulit filamennya yang tersusun dari protein keratin. Selain sebagai komponen pada rangka sel, maka filamen intermediar memiliki fungsi untuk dapat menahan tarikan (seperti mikrotubula).

    4. Nukleus (Inti Sel)
    Nukleus ataupun dikenal dengan inti sel adalah bagian yang penting dari sel yang memiliki peran ataupun fungsi untuk pengendali kegiatan sel. Nukleus adalah organel terbesar yang terdapat di dalam sel. Nukleus memiliki ukuran diameter sekitar 10 mikrometer. Nukleus umumnya terletak pada bagian tengah sel serta memiliki bentuk bulat atau oval.


    Biasanya sel organisme memiliki inti tunggal, namun ada juga yang mempunyai lebih dari satu inti. Berdasarkan jumlah nukleus, maka sel dibedakan menjadi:
  • Sel mononukleat atau sel inti tunggal, seperti sel hewan dan tumbuhan.
  • Binukleat atau sel inti ganda, seperti Paramaecium.
  • Multinukleat atau sel inti banyak, seperti Vaucheria (sejenis alga) serta beberapa jenis jamur.
  • Di dalam nukleus ditemukan matriks yang dikenal dengan sebutan nukleoplasma, nukleolus, RNA, serta kromosom. Kromosom tersusun atas protein dan DNA.
  • Membran Nukleus (Selaput Inti)
  • Selaput inti adalah suatu bagian terluar inti yang dapat memisahkan antara nukleoplasma dengan sitoplasma. Selaput inti yang terdiri dari dua lapis membran atau bilaminair, dan setiap lapis merupakan lapisan bilayer. Ruang antara membran dikenal dengan sebutan perinuklear ataupun sisterna. Pada membran ini ditemukan porus yang memiliki fungsi sebagai pertukaran molekul dengan sitoplasma.

  • Nukleoplasma
  • Nukleoplasma adalah cairan inti (karyotin) yang mempunyai sifat transparan serta semisolid (kental). Nukleoplasma mempunyai kandungan kromatin, granula, nukleoprotein, serta senyawa kimia yang kompleks. Ketika pembelahan sel terjadi, maka benang kromatin menebal serta memendek dan mudah menyerap zat warna yang dikenal dengan sebutan kromosom.
    Benang kromatin yang tersusun dari protein serta DNA. Di dalam benang DNA inilah yang akan tersimpan mengenai informasi kehidupan. DNA akan mentranskripsi diri atau menyalin diri menjadi RNA yang nantinya akan dikeluarkan lewat sitoplasma.

  • Nukleolus
  • Nukleolus ataupun anak inti yang tersusun dari fosfoprotein, orthosfat, DNA, serta enzim. Nukleolus yang terbentuk ketika terjadi suatu proses transkripsi (sintesis RNA) yang ada di dalam nukleus. Apabila transkripsi berhenti, maka nukleolus akan menghilang ataupun menjadi kecil. Jadi, nukleolus bukan termasuk ke dalam organel yang tetap.
    Fungsi nukleus atau inti sel antara lain yaitu:
  • Pengatur pembelahan sel.
  • Pengendali seluruh kegiatan sel, seperti halnya dengan memasukkan RNA serta unit ribosom menuju sitoplasma.
  • Pembawa informasi genetik.


  • 5. Retikulum Endoplasma
    Retikulum endoplasma yaitu suatu organel yang tersusun dari membran yang terbentuk seperti jala. Retikulum sendiri asalnya dari kata reticular yang artinya anyaman benang ataupun jala. Letaknya memusat pada bagian di sisi dalam sitoplasma yaitu endoplasma, sehingga dikenal sebagai sebutan retikulum endoplasma (RE).


    Membran RE adalah kelanjutan dari membran nukleus menuju ke membran plasma. Jadi, RE adalah suatu saluran penghubung diantara nukleus dengan bagian sisi luar sel. Dalam sel ditemukan dua jenis retikulum endoplasma antara lain:
  • Retikulum Endoplasma Kasar. Permukaan retikulum endoplasma yang telah diselubungi ribosom yang penampakannya terdapat berbintil-bintil sehingga sangat dikenal dengan RE kasar. Ribosom yaitu tempat sintesis protein. Protein ini ditampung oleh RE kasar yang terdapat di dalam rongga RE.
  • Retikulum Endoplasma Halus. RE halus merupakan RE yang tak ditempeli oleh ribosom sehingga permukaannya halus.
  • Retikulum endoplasma memiliki beberapa fungsi antara lain, yaitu:
  • Mensintesis lemak ataupun kolesterol oleh RE kasar serta RE halus.
  • Menampung protein yang disintesis ribosom agar disalurkan menuju kompleks Golgi dan pada akhirnya akan dikeluarkan dari sel (RE kasar).
  • Transportasi molekul-molekul dari suatu bagian sel yang satu menuju bagian sel yang lainnya (RE kasar dan RE halus).
  • Menetralkan racun (detoksifikasi), sebagai contoh RE yang terdapat di dalam sel-sel hati.

  • 6. Ribosom
    Ribosom adalah suatu struktur sangat kecil yang tersuspensi di dalam sitoplasma serta terdapat di dalam sel eukariotik ataupun prokariotik. Pada sel eukariotik, ribosom ditemukan bebas di dalam sitoplasma ataupun terikat RE. Ribosom yang tersusun dari protein dan RNA.



    Ribosom terdiri dari 2 jenis subunit, yaitu subunit kecil serta subunit besar. Tiap-tiap subunit akan disintesis di dalam nukleolus serta dikeluarkan lewat porus nukleus ke sitoplasma yang merupakan tempat kedua subunit bergabung. Ribosom berfungsi untuk sintesis protein.

    7. Kompleks Golgi
    Kompleks Golgi ditemuin di hampir semua sel tumbuhan serta hewan. Pada sel tumbuhan, maka kompleks Golgi dikenal dengan sebutan diktiosom. Badan Golgi ditemukan oleh Camillio Golgi di tahun 1898 tersebar dalam sitoplasma serta termasuk ke dalam salah satu komponen terbesar di dalam sel. Antara badan Golgi satu dengan badan Golgi lainnya saling berhubungan serta membentuk struktur kompleks seperti jala. Badan Golgi sangat penting di sel sekresi.


    Kompleks Golgi serta RE memiliki hubungan erat di dalam sekresi protein sel. Di depan sudah dikatakan bahwa RE akan menampung serta menyalurkan protein ke Golgi. Golgi mereaksikan protein tersebut dengan glioksilat sehingga akan terbentuk glikoprotein untuk dapat dibawa ke luar sel. Hasilnya akan disekresikan itulah sehingga Golgi dikenal dengan sebutan organel sekretori.

    Selain itu, kompleks Golgi juga mempunyai fungsi diantaranya sebagai berikut:
  • Tempat untuk sintesis polisakarida misalnya hemiselulosa, mukus, selulosa, dan pektin atau penyusun dinding sel pada tumbuhan.
  • Membentuk membran plasma.
  • Membentuk kantong sekresi untuk jadi pembungkus zat yang akan dikeluarkan oleh sel, glikoprotein, karbohidrat, contohnya protein, dan lemak.
  • Membentuk akrosom di sel sperma, membentuk lisosom serta kuning telur di sel telur, .

  • 8. Lisosom
    Lisosom asalnya dari kata lyso yaitu pencernaan serta soma yaitu tubuh, yang merupakan membran kantong kecil yang yang isinya enzim hidrolitik yang dikenal dengan sebutan lisozim. Lisosom yaitu organel berbentuk agak bulat serta dibatasi membran tunggal. Biasanya memiliki diameter sekitar 1,5 mikrometer, meskipun kadang-kadang ditemukan lisosom memiliki diameter sekitar 0,05 mikrometer.


    Lisosom ditemukan hampir di seluruh sel eukariotik, terutama beberapa sel yang memiliki sifat fagositik misalnya seperti leukosit. Lisosom berisi beberapa enzim hidrolitik misalnya seperti protease, fosfatase, lipase, nuklease, serta enzim pencerna yang lain.

    Enzim lisosom merupakan suatu protein yang telah diproduksi oleh ribosom serta nantinya masuk ke RE. Dari RE, maka enzim akan dimasukkan ke dalam membran dan nantinya akan dikeluarkan oleh sitoplasma jadi lisosom.
    Selain itu, terdapat juga suatu enzim yang dimasukkan terlebih dahulu ke Golgi. Enzim tersebut dibungkus oleh membran dan nantinya akan dilepaskan dalam bentuk sitoplasma oleh Golgi. Jadi, proses dari pembentukan lisosom bisa dilakukan dengan cara langsung oleh Golgi atau RE.

    Proses pencernaan oleh lisosom akan berlangsung ketika sel menelan bakteri dengan cara fagositosis. Bakteri itu akan dimasukkan menuju vakuola. Vakuola yang berisikan dengan bakteri akan dihampiri lisosom. Membran lisosom serta membran vakuola bersinggungan serta bersatu.
    Enzim lisosom akan masuk menuu vakuola serta mencerna bakteri. Substansi hasil dari pencernaan lisosom akan disimpan dalam bentuk vesikel yang nanti akan ditranspor menuju membran plasma serta akan dikeluarkan dari sel. Secara rinci maka lisosom memiliki fungsi sebagai berikut:
  • Melakukan pencernaan intrasel.
  • Autofagi dapat menghancurkan struktur yang tak diinginkan, misalnya organel lain yang telah tidak memiliki fungsi.
  • Eksositosis yaitu suatu pembebasan enzim keluar dari sel, misalnya untuk pergantian tulang rawan di bagian perkembangan tulang keras.
  • Autolisis merupakan penghancuran diri sel dengan cara membebaskan isi dari lisosom ke dalam sel, misalnya yang terjadi ketika berudu menginjak usia dewasa dengan cara menyerap kembali ekornya.
  • Menghancurkan senyawa karsinogenik.
  • Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa lisosom memiliki peranan yang sangat penting di dalam sel. Bagaimana apabila lisosom mengalami kegagalan fungsi? Kegagalan proses pencernaan lisosom mampu mengakibatkan penyakit silikosis dan penyakit rematik.

    9. Badan Mikro
    Badan mikro hampir mirip dengan lisosom, yang mempunyai bentuk yang sedikit bulat, serta diselubungi membran tunggal, serta di dalamnya ditemukan enzim katalase dan oksidase. Organela ini disebut dengan badan mikro karena memiliki ukuran yang sangat kecil, hanya berdiameter sekitar 0,3–1,5 mikrometer.
    Terdapat 2 jenis badan mikro, antara lain yaitu peroksisom serta glioksisom. Peroksisom ditemukan di sel hewan, fungi, serta daun tanaman tingkat tinggi. Peroksisom berperan atau memiliki fungsi untuk oksidasi substrat yang menghasilkan H2O2 memiliki sifat racun untuk sel dan selanjutnya akan dipecah menjadi H2O + O2.


    Peroksisom penting untuk penyerapan cahaya serta untuk respirasi sehingga memiliki hubungan yang erat dengan kloroplas maupun mitokondria. Peran ataupun fungsi lain dari peroksisom selain untuk melindungi sel dari H2O2, juga memiliki peran untuk perubahan lemak menjadi karbohidrat serta perubahan purin di dalam sel.

    Glioksisom terdapat di sel tanaman. Glioksisom memiliki peran atau memiliki fungsi untuk metabolisme asam lemak serta tempat terjadinya siklus glioksilat.
    10. Mitokondria
    Mitokondria memiliki bentuk yang bulat panjang ataupun mirip seperti tongkat yang terdapat di sel eukariotik aerob. Mitokondria yang dibatasi 2 lapisan membran yang sangat kuat, fleksibel, serta stabil, dan tersusun dari lipoprotein. Membran pada bagian sisi dalam akan berupa tonjolan-tonjolan yang dikenal dengan sebutan krista untuk bisa memperluas permukaan supaya penyerapan oksigen lebih efektif.


    Ruangan dalam mitokondria yang berisikan dengan cairan dikenal dengan sebutan matriks mitokondria. Matriks mitokondria yang sangat kaya RNA, DNA, enzim pernapasan atau sitokrom, dan protein. Mitokondria mempunyai DNA sendiri yang mengkode suatu sintesis protein spesifik.

    Mitokondria memiliki fungsi untuk oksidasi makanan, fosforilasi oksidasif, respirasi sel, dehidrogenasi, serta sistem transfer elektron. Oksidasi zat makanan yang terjadi di dalam mitokondria akan menghasilkan energi maupun zat sisa. Reaksi sederhananya yaitu C6H12O6 (glukosa) + O2 (oksigen) yang akan menjadi CO2 + H2O + energi. Berhubungan dengan fungsi tersebut, maka mitokondria sering dikenal dengan sebutan the power house of cell.
    11. Kloroplas
    Kloroplas hanya ditemukan di sel tumbuhan serta Algae tertentu. Pada tumbuhan umumnya memiliki bentuk cakram dengan ukuran diameter 5–8 mikrometer serta tebal 2–4 mikrometer. Kloroplas yang dibatasi dengan membran ganda. Di dalam kloroplas ditemukan klorofil (pigmen fotosintetik) serta pigmen lain yang lokasinya terletak di membran ataupun di bahan dasar pada bagian dalam kloroplas. Bahan dasar kloroplas berupa cairan yang dikenal dengan sebutan stroma.


    Kloroplas memiliki fungsi untuk tempat berlangsungnya fotosintesis. Peran pigmen untuk dapat menangkap cahaya matahari yang diubah menjadi suatu energi kimia.

    12. Sentriol
    Sel hewan serta beberapa mikroorganisme dan tumbuhan tingkat rendah memiliki kandungan dua sentriol dalam sitoplasma. Sentriol letaknya di dekat permukaan luar nukleus. Setiap sentriol yang terdiri dari sebaris silinder sebanyak sembilan mikrotubul. Sentriol memiliki peran atau memiliki fungsi untuk proses pembelahan sel.

    13. Dinding Sel
    Tidak semua organisme eukariotik memiliki dinding sel. Struktur dinding sel hanya ditemukan di tumbuhan, fungi, maupun di beberapa protista. Fungsi dari dinding sel yaitu untuk memberi bentuk sel, dan melindungi bagian sisi dalam sel dari suatu pengaruh lingkungan, serta untuk menjaga sel supaya tidak pecah akibat kemasukan air secara berlebihan.

    Dinding sel adalah suatu bagian terluar dari sel eukariotik. Pada tumbuhan, maka dinding sel ini memiliki sifat kaku serta tersusun dari polisakarida. Polisakarida terdiri dari hemiselulosa, selulosa, serta pektin. Dinding sel yang dibentuk diktiosom. Dinding sel bersama-sama vakuola memiliki peran untuk kekakuan sel atau turgiditas sel.


    Pada awal pembentukannya, maka dinding sel merupakan selaput tipis yang tersusun oleh selulosa (polisakarida kompleks). Diantara dua dinding sel berdekatan ada lamela tengah. Dua sel berdekatan dihubungkan dengan saluran yang ditemukan ada di dalamnya berupa bentuk benang-benang plasma yang dikenal dengan plasmodesmata.

    Dinding sel dapat dibedakan menjadi 2 jenis dinding sel yaitu dinding sel primer dan bagian dinding sel sekunder. Dinding sel primer yang dibentuk pada saat sel membelah, misalnya seperti sel-sel muda yang sedang tumbuh. Dinding sel primer tersusun dari sel selulosa sekitar 9% hingga 25%, pektin, hemiselulosa, serta beberapa senyawa lainnya.
    Selulosa terdiri dari mikrofibril yang merupakan suatu serat-serat yang panjang dan mempunyai daya regang kuat. Sementara itu, untuk dinding sel bagian sekunder terbentuk karena adanya penebalan. Dinding sel sekunder ini dipunyai oleh sel-sel dewasa yang ditemukan di sebelah bagian dalam dinding sel primer.

    Dinding sel sekunder memiliki suatu kandungan selulosa antara sekitar 41–45%, hemiselulosa, serta lignin. Beberapa sel dindingnya akan mengalami penebalan zat lignin yang dikenal dengan sebutan lignifikasi. Lignifikasi akan mengakibatkan xilem serta sklerenkim mengayu (keras serta kaku).

    Penebalan dinding sel yang terjadi akibat suatu penyisipan ataupun akibat suatu aposisi penebalan-penebalan lama maupun akibat penambahan (intususepsi) penebalan lama. Di antara dinding sel terdapat yang tidak akan mengalami penebalan dikenal dengan sebutan noktah.
    Demikianlah penjelasan singkat mengenai struktur serta fungsi dari sel eukariotik disertai dengan gambar bagian-bagiannya. Semoga bermanfaat.