Cara Hidup Serta Sistem Reproduksi Virus Secara Sistem Litik Maupun Lisogenik Beserta Proses Tahapannya

Apakah Anda ingin mengetahui bagaimana cara virus dalam melakukan perberkembangbiakan? Inilah penjelasan yang lengkap mengenai cara hidup serta reproduksi virus dengan cara litik ataupun lisogenik dan beberapa proses tahapannya. Berbeda halnya dengan bakteri, maka virus bukanlah suatu sel karena tidak mempunyai nukleus, sitoplasma, maupun organel sel.
Virus hanya mampu bertahan hidup serta dapat memperbanyak diri saat berada di dalam sel suatu makhluk hidup lainnya, sedangkan ketika sedang berada di lingkungan luar, maka virus hanyalah kondisi benda yang tidak hidup. Oleh sebab itu, virus sering dikenal dengan makhluk hidup peralihan. Nah, supaya lebih jelas, mari disimak pembahasan mengenai proses perkembangbiakan virus berikut ini.
Cara Hidup Virus
Supaya lebih paham terkait bagaimana siklus hidup virus, alangkah baiknya mengingat kembali struktur tubuh dari virus. Virus mempunyai struktur yang paling sederhana. Virus yang hanya terdiri berupa kumpulan materi genetik seperti DNA ataupun RNA yang diselimuti oleh protein yang menjadi pelindung yang dikenal dengan sebutan kapsid. Virus memiliki ukuran yang sangat kecil, yaitu sekitar 20 milimikron hingga 300 milimikron dan hanya mampu dilihat menggunakan mikroskop elektron.
Dilihat dari strukturnya, maka virus tidak mampu bertahan hidup berdiri sendiri ataupun melangsungkan hidupnya secara bebas di alam. Virus hanya mampu bertahan hidup maupun bereproduksi di dalam sel hidup lainnya. Oleh sebab itu, maka virus hidup dikenal parasit yang menempel di suatu organisme lainnya seperti hewan, bakteri, tumbuhan, maupun manusia.
Sel hidup yang dapat menjadi tempat berlangsungnya kehidupan atau tempat tinggal virus umumnya disebut dengan sel inang. Virus dikenal sebagai makhluk parasit intraseluler obligat, yaitu suatu mikroorganisme parasit yang tidak bisa bereproduksi jika berada di luar sel inang. Virus akan memaksakan sel inang untuk dapat membantu reproduksinya. Berikut ini terdapat beberapa contoh dari virus yang hidupnya menumpang di makluk hidup lainnya.


Virus Bakteri
Virus yang menginfeksikan bakteri disebut bakteriofag. Bakteriofag dapat melakukan perberkembangbiakan dengan cara yang cepat sehingga dalam waktu yang sangat cepat dapat sejumlah bakteri. Bakteriofag mempunyai inti asam nukleat yang memiliki bentuk DNA ganda yang berpilin ataupun tunggal berpilin ataupun juga  RNA rantai tunggal. Salah satu dari contoh bakteriofag yaitu T4 virus yang dapat menyerang bakteri Eschericia coli (E. coli).
Virus Tumbuhan
Sebagian besar penyakit ditemukan di tumbuh-tumbuhan yang telah disebabkan oleh virus. Serangan virus ini bisa mengakibatkan kerugian ekonomi yang cukup besar, misalnya seperti virus yang telah menyerang tanaman kentang maupun tumbuhan tembakau.
Ciri ciri virus yang telah menyerang tumbuh-tumbuhan umumnya mempunyai bahan genetik berupa RNA. Virus ini bisa memasuki bagian dalam dari suatu sel secara aktif ataupun dengan luka, misalnya seperti luka cedera karena gesekan pada daun. Di alam terbuka virus ditularkan dengan cara kontak langsung ataupun lewat vektor. Sejumlah besar virus bisa juga ditularkan lewat serangga.
Virus dapat memperbanyak dirinya di dalam suatu tempat saluran pencernaan pada hewan serangga (yaitu virus persisten). Virus juga mampu menginfeksi tumbuhan lain sesudah terjadinya masa inkubasi yang ada di dalam serangga. Sementara itu, virus yang tidak persisten bisa ditularkan lewat gigitan serangga dengan cara langsung.
Virus Patogen pada Hewan
Bahan genetik virus hewan yaitu DNA ganda yang berpilin ataupun RNA polinukleotida tunggal. Virus dapat menyebabkan sampar pada ayam, ebola pada kera, penyakit rabies (anjing gila), serta penyakit kuku pada ternak. Virus ini bisa ditularkan dengan cara kontak langsung ataupun lewat perantara serangga.

Untuk penelitiannya, dibutuhkan hewan percobaan ataupun telur ayam yang telah dierami. Selain itu, virus juga bisa diperbanyak dengan cara kultur jaringan. Perbanyakan ini bisa dilakukan di laboratorium.

Virus yang Menyerang Manusia
Virus yang dapat menyerang manusia, antara lain yaitu influenza, polio, mata belek, hepatitis, HIV AIDS, virus cacar air, diare, cacar, campak, virus AI, dan demam berdarah. Virus pada manusia bisa ditularkan dengan cara kontak langsung ataupun tidak langsung.
Mata belek, influenza, maupun cacar bisa ditularkan dengan cara kontak langsung ataupun lewat perantara udara. Hepatitis ataupun polio dapat ditularkan lewat perantara air di sumur yang telah tercemar airnya atau lewat perantara sendok maupun piring bekas dari si penderita maupun lewat keringat penderita. Demam berdarah bisa ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Sementara itu, untuk virus HIV AIDS bisa ditularkan lewat jarum suntik, air susu, transfusi darah, hubungan kelamin, plasenta ibu hamil pada janinnya, air ludah, dan cairan vagina dan sperma.
Reproduksi Virus Dengan Litik Maupun Lisogenik
Apakah virus berkembang biak? Tentu saja memiliki tujuan untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Mengingat struktur tubuh virus yang sangat sederhana, maka cara reproduksi virus pun berbeda dengan makhluk hidup lainnya.

Virus tidak mampu berkembang biak jika berada di luar sel-sel hidup sehingga dapat dikatakan bahwa virus bukan merupakan makhluk hidup yang dapat hidup secara mandiri. Pada beberapa artikel sering ditemuin istilah reproduksi pada virus dapat digantikan dengan bahasa atau kata replikasi virus ataupun perkembangbiakan virus.
Virus akan selalu memanfaatkan sel-sel hidup yang dapat dijadikan sebagai inang tempat hidupnya agar dapat memperbanyak dirinya. Replikasi terjadi di dalam sel inang. Untuk dapat mereplikasi zat asam nukleat serta mensintesis protein selubungnya, maka virus akan bergantung pada sel-sel inang. Replikasi ini dapat menyebabkan rusaknya sistem sel inang. Setelah itu, maka virus akan keluar dari sel inang. Di luar sel inang, maka virus dikenal sebagai partikel virus yang dikenal dengan istilah virion.

Ada beberapa tahapan di dalam replikasi ataupun reproduksi virus, antara lain yaitu tahapan penempelan (adsorpsi) virus pada inang, tahapan masuknya asam (injeksi) inti ke dalam suatu sel inang, tahapan pembentukan (sintesis), tahapan perakitan, serta tahapan pemecahan sel inang (litik). Menurut tahapan tersebut, maka siklus hidup virus ataupun siklus reproduksi virus dibedakan menjadi siklus litik maupun siklus lisogenik.
Tahapan Urutan Proses Reproduksi Pada Virus Secara Litik
Siklus ataupun daur reproduksi virus dengan sistem litik yaitu replikasi genom suatu virus yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian sel inang. Hal ini karena virus dapat menghancurkan sel inang. Istilah litik ataupun lisis mengacu terhadap tahapan akhir dari infeksi virus, yaitu ketika sel inang bakteri lisis maupun pecah serta melepaskan virus yang telah dihasilkan di dalam sel inang itu.


Virus yang hanya mampu bereplikasi lewat siklus lisis dikenal dengan sebutan virus virulen. Berikut ini merupakan salah satu contoh dari tahapan-tahapan reproduksi virus pada siklus litik yang terjadi terhadap virus bakteri.

a. Tahap Adsorpsi
Pada tahap reproduksi, maka ekor virus mulai menempel pada bagian dinding sel bakteri. Virus hanya dapat menempel di dinding sel yang memiliki kandungan protein khusus yang mampu ditempeli oleh protein virus. Menempelnya virus di dinding sel disebabkan karena terdapat reseptor di ujung serabut ekor. Sesudah menempel, maka virus tersebut akan segera mengeluarkan suatu enzim lisozim yang bisa menghancurkan ataupun membuat suatu lubang di sel inang.
b . Tahap Injeksi
Proses injeksi DNA ke bagian dalam sel inang ini yang terdiri dari kontraksi sarung, penambatan lempeng ujung, serta penusukan pasak berongga ke bagian dalam sel bakteri. Pada peristiwa seperti ini, maka suatu asam nukleat masuk menuju bagian dalam sel, sedangkan untuk bagian dari selubung proteinnya akan tetap berada pada bagian luar sel bakteri tersebut. Apabila sudah kosong, maka selubung protein ini akan segera terlepas serta tidak bermanfaat lagi.
c . Tahap Sintesis (Pembentukan)
Virus tak mampu melakukan sintesis pada diri sendiri, namun virus akan dapat melakukan sintesis dengan cara memakai sel inangnya. Sesudah zat asam nukleat disuntikan ke dalam suatu sel inang, maka akan segera menimbulkan beberapa perubahan yang besar dalam metabolisme sel yang sedang terinfeksi (sel inang ataupun bakteri). Enzim penghancur yang diperoleh virus mampu menghancurkan sel DNA bakteri yang mampu menyebabkan sintesis pada DNA bakteri yang terhenti. Posisi ini telah digantikan oleh DNA virus yang nantinya akan mengendalikan kehidupannya.
Dengan fasilitas yang asalnya dari DNA bakteri yang telah tidak dapat berdaya, maka suatu DNA virus akan segera mereplikasikan diri yang akan berulang kali dengan cara penggandaan diri dengan jumlah yang sangat banyak. Sintesis DNA virus serta protein yang terbentuk karena kerugian sintesis bakteri yang sudah rusak. DNA virus ini nantinya akan mengendalikan sintesis DNA serta protein yang akan bisa dijadikan kapsid virus.

d . Tahap Perakitan
Pada tahapan perakitan, maka kapsid dari virus yang kondisinya masih secara terpisah-pisah diantara bagian kepala, ekor, serta bagian serabut ekor akan dapat mengalami suatu proses dari perakitan untuk dapat menjadi kapsid yang utuh. Kemudian, kepala yang telah selesai terbentuk akan diisi dengan DNA virus. Proses ini bisa menghasilkan virus yang sejumlah 100 - 200 buah.
e . Tahap Litik
Dinding sel bakteri yang sudah dilunakkan menggunakan zat enzim lisozim akan secepatnya pecah serta akan diikuti dengan terjadinya pembebasan virus-virus baru yang sudah siap segera untuk mencari sel-sel inang yang baru. Pemecahan sel-sel bakteri dengan eksplosif dapat diamati menggunakan mikroskop lapangan gelap. Jangka waktu yang akan dilewati 5 (lima) tahap ini serta jumlah virus yang akan dibebaskan akan sangat bervariasi, dan tergantung dengan jenis virus, bakteri, maupun kondisi lingkungan.

Tahapan Urutan Proses Reproduksi Virus Lisogenik
Siklus atau daur reproduksi virus sistem lisogenik yaitu suatu siklus replikasi genom virus tanpa harus menghancurkan sel inang. Siklus lisogenik sebenarnya sesungguhnya sangat mirip dengan siklus litik, dan perbedaan keduanya terdapat pada sel inangnya yang dimana untuk siklus lisogenik tidak akan hancur namun disisipi oleh suatu asam nukleat dari virus.
Pada reproduksi virus pada siklus lisogenik, maka tahap yang akan dilalui lebih banyak dibandingkan dengan reproduksi virus siklus litik. Tahap adsorpsi serta tahap injeksi akan sama dengan siklus litik. Namun, sebelum tahap sistesis, maka terlebih dahulu virus akan melewati tahap penggabungan serta tahap pembelahan. Lalu, dilanjutkan dengan tahapan perakitan serta tahap litik.

a . Tahap Adsorpsi
Tahap adsorpsi di sistem reproduksi virus siklus lisogenik yang sama seperti dengan tahapan adsorpsi di reproduksi virus siklus litik. Pada tahap adsorpsi, maka ekor virus akan mulai menempel pada dinding sel bakteri. Sesudah menempel, maka virus secepatnya untuk mengeluarkan suatu zat enzim lisozim yang mampu merusak ataupun menghancurkan atau mampu membuat suatu lubang pada sel inangnya.

b. Tahap Injeksi
Masih sama dengan tahapan injeksi siklus litik, maka pada peristiwa ini, untuk zat asam nukleat akan masuk ke dalam sel, sedangkan untuk selubung proteinnya akan tetap berada di bagian luar sel bakteri. Apabila telah kosong, maka selubung protein ini akan segera terlepas serta tidak bermanfaat lagi.
c . Tahap Penggabungan
Tahap ini yaitu suatu tahap saat DNA virus telah masuk ke dalam tubuh suatu bakteri serta terjadinya penggabungan diantara DNA bakteri serta DNA virus. Proses ini terjadi saat DNA yang memiliki bentuk kalung tidak berujung pangkal terputus serta DNA virus akan menyisip di antara DNA bakteri yang telah terputus tadi. Lalu, terbentuklah suatu rangkaian DNA yang utuh yang sudah terinfeksi ataupun tersisipi DNA virus.

d . Tahap Pembelahan
DNA virus sudah tersambung dengan DNA bakteri. DNA virus tidak mampu bergerak ataupun disebut dengan sebuta profag. Karena bergabung dengan suatu DNA bakteri, dan saat DNA bakteri akan segera melakukan replikasi selnya dengan cara yang langsung, dan profag juga akan segera melakukan replikasi. Demikian juga ketika sel dari bakteri telah mengalami suatu pembelahan sel, maka dengan cara yang langsung untuk 2 (dua) anak sel dari bakteri akan memiliki kandungan profag tersebut juga ikut bersama-sama untuk mengalami pembelahan. Dengan kata lain, maka kadar jumlah profag akan sama halnya dengan jumlah dari sel bakteri di inangnya.
e . Tahap Sintesis
Pada kondisi lingkungan tertentu, maka profag menjadi aktif. Profag bisa saja memisahkan dirinya dengan DNA bakteri serta merusak DNA bakteri. Kemudian akan menggantikan dari peran dari DNA bakteri dengan suatu DNA dari virus untuk dapat melakukan sistesis protein yang mempunyai fungsi untuk kapsid terhadap semua virus baru dan replikasi DNA.

f . Tahap Perakitan
Pada tahapan perakitan, akan terjadi perakitan dari kapsid-kapsid virus yang secara utuh sebagai selubung virus. Sesudah kapsid virus utuh, maka akan diisi dengan DNA dari hasil replikasi, dan terjadilah virus-virus yang baru.
g. Tahap Litik
Ketika sel bakteri lemah yang disebabkan lingkungan luar, misalnya karena terkena radiasi ataupun karena zat kimia, maka virus akan segera mengubah reproduksinya untuk menjadi litik. Tahapan ini sama dengan tahapan reproduksi dari virus siklus litik. Pada siklus litik ketika dinding bakteri akan dapat pecah serta virus baru yang berhamburan keluar. Virus baru ini yang selanjutnya akan melakukan penyerangan ke bakteri yang lain. Begitu seterusnya, virus akan dapat mengalami suatu reproduksi virus siklus litik atau lisogenik.
Demikianlah penjelasan mengenai proses dari virus yang ada pada sel inang dengan sistem litik ataupun sistem lisogenik. Semoga bermanfaat.