Mitos dan Fakta Tentang Perawatan Ban Kendaraan

Terdapat banyak informasi yang beredar dan kurang tepat mengenai perawatan ban kendaraan. Informasi yang salah tersebut sering diperoleh dari para pemilik mobil atau juga pecinta otomotif. Dengan alasan ingin merawat ban supaya menjadi lebih awet, yang ternyata hal tersebut justru berakibat dapat mengurangi performa dari ban serta akan berefek buruk terhadap keselamatan pengguna di jalan raya. Perawatan ban kendaraan tidak boleh disepelekan ataupun dianggap remeh. Karena ban termasuk satu-satunya bagian yang sangat penting dari kendaraan yang akan sentuhan langsung terhadap permukaan jalan. 
Di bawah ini terdapat beberapa mitos terkait perawatan ban yang sangat sering dijumpai, diantaranya yaitu: 



1. Mengurangi Tekanan Angin Pada Ban di Musim Hujan 
Ketika musim hujan, maka jalanan menjadi basah dan penuh dengan genangan air yang tidak terhindarkan lagi. Ketika sedang melewati jalanan yang basah, maka akan sangat rentan terjadinya hydroplaning ataupun aquaplaning. Kondisi seperti ini terjadi ketika ban mobil sedang kehilangan penapakan terhadap jalan ataupun mengalami traksi pada permukaan jalan. 
Saat pengendara kendaraan memilih untuk melakukan pengurangan tekanan angin pada ban kendaraan, maka dapat membuat kondisi ban tersebut dalam kondisi keadaan yang kempis ataupun telapak ban sangat mudah untuk terlipat. Sehingga kemampuan telapak pada ban dalam membuang air akan berkurang dan tentunya hal ini sangat rentan terjadinya aquaplaning. Sebaiknya tekanan angin pada ban berada di angka yang normal ataupun yang sesuai dengan standar pabrikan kendaraan apapun untuk kondisi jalan yang akan dilewati olehnya. 
2. Menggunakan Ban Dalam Terhadap Ban Tubeless Akan Dapat Membuat Ban Semakin Kuat 
Mitos yang kedua ini tentunya sangat keliru. Ban dalam hakikatnya hanya memiliki fungsi untuk dapat menampung tekanan angin. Ban dalam tidak akan memberikan kontribusi untuk dapat menambah kekuatan dari dalam untuk menopang beban. 

Komposisi ban tubeless telah dilengkapi dengan inner linner, yaitu suatu bahan yang terbuat dari jenis bahan compound khusus yang berfungsi untuk pengganti ban dalam. Inner linner ini memiliki fungsi untuk dapat menjaga udara dalam ban ataupun tekanan angin dari ban tidak keluar. 
Jika ban tubeless dipasang ban dalam, maka secara otomatis fungsi dari tubelessnya akan hilang, bahkan jika tertusuk akan langsung mengalami kebocoran (layaknya ban biasa atau ban tube type). Ditambah lagi jika terjadi kerusakan pada ban maka garansi juga akan secara otomatis tidak akan berlaku karena terdapat kesalahan dalam penggunaannya. 

3. Mengurangi Tekanan Angin Untuk Perjalanan Yang Jauh 
Mengurangi tekanan angin pada ban untuk kendaraan yang melakukan perjalanan jauh dapat memicu pembangkitan panas pada ban. Ban akan menjadi sangat mudah rusak karena hal ini tentunya hal ini sangat berbahaya apalagi ketika melakukan perjalanan jauh. Pengurangan tekanan angin pun dapat berakibat daya topang antara ban dengan beban semakin berkurang. 
Efek lain hal buruk yang dapat terjadi yaitu kemudi/setir yang terasa menjadi lebih berat, karena hambatan gulir yang akan menjadi lebih tinggi sehingga untuk konsumsi bahan bakar pun akan semakin besar, kemudian respons ban ketika sedang menikung akan berkurang, performa pada pengereman yang ikut berkurang, serta potensi terjadi aquaplaning, dan efek jangka panjang seperti aus yang tidak rata. 

4. Ganti Ban, Ban Yang Baru Harus Dibagian Depan 
Banyak orang yang sering mengatakan ketika hanya mengganti 2 buah ban, maka sebaiknya untuk ban yang baru itu diletakkan pada posisi bagian depan. Padahal pernyataan tersebut kurang tepat. Pabrik ban telah merekomendasikan ban dengan memiliki performa paling baik seharusnya diletakkan pada bagian posisi belakang. 
Posisi bagian depan pada kendaraan dapat dokendalikan dengan kemudi kendaraaan, sementara ban pada posisi bagian belakang tidak dapat dikendalikan. Dengan begitu, kondisi ban dengan tingkat performa yang lebih baik seharusnya diletakkan di bagian belakang untuk memperoleh traksi yang mumpuni. Saat kondisi ban belakang telah aus, maka hal ini memungkinkan akan terjadi over steer ketika berbelok di jalanan yang basah bahkan kendaraan lebih sulit untuk dikendalikan. 

5. Mencampur Nitrogen Bersamaan Dengan Angin Biasa Pada Ban
Ketika ban yang telah diisi dengan udara nitrogen dan mengalami kekurangan angin ataupun kempis, maka sebaiknya memang harus diisi kembali dengan bahan nitrogen. Akan tetapi apabila dalam keadaan kondisi darurat dan hanya akan tersedia angin biasa, maka untuk sementara waktu ban dapat diisi oleh angin biasa. Hal ini boleh serta bahkan harus dilakukan darurat daripada membiarkan kondisi ban kempes dan dipakai dalam kondisi tekanan angin yang kurang. Efek mencampur udara nitrogen dengan angin biasa yaitu akan sedikit mengurangi kemurnian dari kandungan Nitrogen. 
Efek dari beberapa mitos tersebut akan sangat berpengaruh dengan keselamatan pengemudi di jalan raya. Maka percayakanlah untuk perawatan ban kepada yang ahlinya. Pemilik kendaraan dapat mengunjungi atau menghubungi bengkel mobil yang telah mempunyai peralatan yang memadai untuk dapat melakukan merawat ban dengan cara yang lebih baik.