Ketahuilah Penghasilan Meningkat Belum Tentu Menambah Tabungan, Ini Alasannya

Banyak yang berkata bahwa uang bukanlah segala-galanya. Hanya saja uang pasti tetap dibutuhkan di dalam kehidupan ini. Mengatur keuangan, mewujudkan impian lewat perencanaan finansial yang direncanakan dengan sebaik-baiknya, membuat rencana keuangan dengan pemakaian jangka waktu tertentu, ataupun rencana investasi maupun dengan membeli rumah, atau bahkan pengalaman mengenai memberi utangan ataupun berhutang tentunya pernah dialami oleh hampir semua orang. Banyak aspek dalam kehidupan seperti ini yang sangat erat hubungannya dengan uang. 
Memang benar ungkapan tersebut bahwa uang bukanlah segalanya, akan tetapi segalanya membutuhkan uang. Saya merasa cukup beruntung bahkan sangat bersyukur, hal ini karena tidak lama sesudah lulus kuliah saya mampu mendapatkan pekerjaan, meskipun dengan gaji yang diperoleh tidak terlalu besar. Namun sebagai fresh graduate maka saya merasa cukuplah beruntung untuk membiayai kehidupan saya sehari-hari.
Beruntungnya lagi yang saya rasakan ketika orangtua saya masih sedang mampu-mampunya untuk membiayai segala kebutuhan hidup mereka bahkan adik-adik saya. Jadi dasarnya saya bekerja hanya untuk membiayai diri sendiri (di waktu itu ayah saya sedang masih aktif bekerja juga).
Setelah sekitar 3,5 tahun, saya telah diterima bekerja di suatu perusahaan tempat lain dengan kondisi penghasilan yang sedikit lebih baik, maka tentunya saya sangat senang. Sayangnya kesadaran saya ini untuk harus menabung masih sangatlah kurang, padahal ketika masa sekolah saya sangatlah berhati-hati dalam menggunakan uang jajan yang diberikan oleh orangtua, dan dapat menabung yang cukup lumayan, hingga saya mampu menggunakan waktu saya untuk kuliah di luar kota.
Di tempat perusahaan yang ketiga saya bekerja, maka penghasilan saya semakin lumayan, dan saya sendiri masa itu tidak menyangka memperoleh penghasilan yang sebesar itu. 

Terlena
Karena penghasilan yang diterima lumayan, maka sebagian besar saya gunakan untuk diri sendiri. Saya mulai terlena, dan mulai meningkatkan gaya hidup saya, yang dimulai dari membeli pakaian berkelas yang bermerek terkenal, meskipun bukan yang bermerek kualitas internasional, saya mulai ikut keanggotaan dalam persatuan fitness, mulai kenal berbagai restoran-restoran yang kategori lumayan mahal, mulai mengikuti untuk membeli kopi di kafe tempat yang kategori mahal, dan mulai gonti-ganti merk dan jenis HP meskipun HP yang lama saya masih baik. Saya juga mulai mempunyai banyak kartu kredit dari berbagai bank karena merasa kalau terdapat promo, lumayan, dapat menjadi sebuah diskon. 
Ternyata dengan bertambahnya suatu penghasilan tidak membuat diri saya semakin rajin menabung, justru malah membuat banyak pengeluaran saya yang juga ikut bertambah lebih banyak. Saya merasa tidak ada masalah karena yang saya gunakan adalah uang sendiri, dan tidak merugikan orang lain. 


Lama kelamaan, maka peningkatan penghasilan saya pun malah tidak mampu mengimbangi peningkatan terhadap pengeluaran saya. Saya jadi berlebihan dalam menggunakan kartu kredit saya tersebut, yang di awalnya saya dapat untuk selalu membayar lunas beberapa tagihan setiap bulan dan sekarang menjadi mulai berkurang. Malahan saya mulai menggunakan “kartu sakti” yang dapat mencairkan pinjaman tunai tanpa bantuan aplikasi lagi, hanya lewat telepon. 
Keadaan ini berlanjut hingga akhirnya saya malah merasa kesulitan untuk membayar tagihan minimum payment dari beberapa tagihan saya. Saya benar-benar bagaikan baru tersadar serta menjadi takut sendiri ketika melihat jumlah cicilan saya. Kalau awalnya saya merasa saya yakin mampu membayar berbagai cicilannya karena masih memperoleh penghasilan, setelah saya lihat dan rasakan ternyata cicilan-cicilan tersebut sudah menumpuk menjadi lebih banyak, ditambah lagi dengan tambahan bunganya. 
Tidak Akan Mengulangi Kesalahan Sama
Saya benar-benar merasa sangat tertekan karena sudah membayangkan bahkan merasakan apa yang akan ditagihkan oleh para debt collector maupun lain-lainnya. Saya hampir putus asa, kemudian saya coba berdoa memohon beberapa petunjuk jalan keluar dari berbagai masalah saya ini. Karena penghasilan saya hanyalah berasal dari gaji bulanan saja. Saya terpaksa meminjam sejumlah uang dari ibu saya bahkan mencairkan sejumlah 10% dari total saldo jamsostek saya untuk dapat membayar beberapa tagihan tersebut, dan sisanya saya berusaha untuk menghubungi beberapa bank yang bersangkutan untuk dapat minta program keringanan. 
Keadaan pandemi ini juga memiliki sisi baiknya bagi saya, dan saya menjadi harus makan siang di kantor, dan tidak lagi makan keluar, kemudian saya juga menjadi tidak dapat berkumpul bersama teman-teman saya seperti dulu kala. Biasanya setiap Sabtu maupun Minggu saya selalu bertemu dengan teman-teman saya, makan bareng atau sekedar ngopi bareng sambil mengobrol di mall, dan saya juga tidak dapat nonton bioskop seperti biasanya. Karena di awal masa PSBB untuk ojek online pun dilarang mengangkut penumpangnya, dan saya jadi beralih kembali naik Trans Jakarta untuk transportasi pergi pulang kantor, dan karena kalau naik mobil tentunya terlalu besar untuk biayanya. Saya rasa ini adalah kesempatan dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menegur saya agar saya dapat berhemat agar mencicil pembayaran hutang saya. 

Sebenarnya saya sangatlah menyesali kelalaian saya dalam mengatur keuangan saya tersebut, tetapi karena hal ini sudah terjadi, maka saya hanya mampu berusaha untuk dapat memperbaiki keadaan supaya tidak lagi menjadi lebih buruk. Saya juga tidak ingin lari dari kondisi tanggung jawab terhadap perbuatan saya yang dapat mengakibatkan saya menjadi terlilit utang seperti ini. 
Ini merupakan pengalaman saya, dan saya rasa sangat mahal harganya, baik secara sisi keuangan maupun secara psikis, dan semoga hal ini dapat menjadikan suatu pelajaran berharga juga bagi yang lainnya supaya tidak mengalami kejadian hal yang sama dengan seperti saya alami.