Kisah Motivasi: Usaha Dagang Jajanan Makanan Khas Daerah

Di dalam sebuah seminar yang bertema “The Mindset To Success” pada sebuah sharing untuk pembekalan bagi para adik-adik mahasiswa di sebuah perguruan tinggi yang sedang menunggu masa saat-saat diwisuda, terdapat salah seorang adik mahasiswi yang mengajukan pertanyaan seperti:”Kak, jika sesudah lulus saya ingin memiliki usaha sendiri, sebaiknya usaha seperti apa ya ?” ini merupakan satu-satunya pertanyaan dari salah seorang yang ternyata ingin menjadi seorang pengusaha setelah diwisuda sementara sangat nyaris seluruh pertanyaannya seputar bagaimana cara untuk memperoleh kerja ataupun bagaimana agar dapat memulai karir sebagai karyawan. 
Saya mengawalinya dengan menceritakan sesuatu pada adik mahasiswi yang satu ini bahwa kejadian minggu lalu ketika nonton di sebuah acara talkshow di acara sebuah TV Swasta yang berjudul “Lepas Malam”, dan tiba-tiba saja untuk sang presenter top sedang menyebutkan di daerah-daerah yang sangat terkenal karena terdapat sesuatu yang menarik, yaitu misalnya Bali dengan pariwisatanya, sedangkan Jakarta dengan ornamen tugu Monas-nya, untuk Palembang dengan makanan khas Empek-empeknya, dsb. Seketika itu terhenti untuk meneruskan kalimatnya serta mengulang beberapa argumen seraya kebingungan, “Untuk Tangerang.. Tangerang sangat terkenal...terkenal... terkenal dengan apanya ya? Halo Pak Walikota Tangerang, terdapat PR nih agar ditemukannya sesuatu yang terkenal dari Tangerang?”


Begitu pesawat yang sedang saya tumpangi telah mendarat di lokasi bandara Hang Nadim, Pulau Batam dan langsung terbayang dengan Sup Ikan “Yongkee” yang tentunya tidak akan saya lewatkan di waktu malam dan saat seorang rekan sedang menjemput dan begitu saya masih duduk disofa mobil mewah miliknya, dan saya pun langsung bertanya kepadanya “Apa yang sangat khas dari Batam ini Pak?”, 


“Wah.. apa ya, palingan sup ikan Yongkee Pak” dijawab oleh Pak Jadi Rajagukguk, yang merupakan seorang ketua harian AMA di Batam ini menjawabnya cukup kebingungan.  “Terus, nanti kalau saya hendak pulang akan bawa oleh-oleh seperti apa nih Pak?” dan kemudian nampaknya pertanyaan dari saya ini tetap saja tidak dapat terjawab dengan yang memuaskan.   Tetapi di sepanjang perjalanan pulang ketika berjalan di dalam terminal ke arah pesawat dan ketika menunggu boarding pass di ruang tunggu bandara, dan mata saya sedang tertuju pada satu kios dengan banyak etalase yang berisikan berbagai macam makanan, misalnya saja seperti lempok durian, dodol nenas, dodol nangka, hingga kedondong juga dibikin dodol serta sebagian besar yaitu khas dari daerah Kepri dan sekitarnya.
Aming nama si pemilik kios yang ternyata seorang perantauan yang berasal dari Pekanbaru yang ditemukan di Hang Nadim ini khususnya untuk yang berjualan makanan khas dari daerahnya dan memang ternyata keuntungan yang diperoleh lebih dari cukup untuk dapat membayar sewa kios yang ada di bandara tersebut.  Paling tidak untuk keinginan saya agar dapat membawa pulang beberapa oleh-oleh khas dari Batam terobati dengan dapat membawa pulang makanan Lempok Durian untuk dapat dibagikan ke keluarga, ke tetangga maupun teman-teman di Jakarta .
Pertanyaannya adalah,  sebutkan nama jenis makanan yang daapt mengangkat nama daerah ataupun sebaliknya? Sampai saat ini kota Muntilan yang berada di Jawa Tengah masih dikenal sebagai kota kecil dengan berbagai anekdot apabila kita menaiki bus dari arah Yogyakarta menuju ke Magelang jangan mencoba untuk berkedip mata, karena jika satu kedipan mata Anda saja untuk kota Muntilan bakal terlewatkan. Akan tetapi apabila anda sedang pergi menuju ke arah Borobudur kemudian Anda berhenti di kota tersebut, maka sungguh sangat disayangkan apabila Anda tidak dapat menyempatkan untuk dapat mampir di sebuah lokasi yang mempunyai nama toko ”Tape Ketan Muntilan” merupakan toko yang sedang menjual beraneka jenis makanan yang berasal dari daerah dengan aneka produk unggulan dari bahan Tape Ketan dengan cara menyandang nama ’Muntilan’ yang berada di samping Gudeg Yogya, Salak Bali, Swikee Purwodadi, Lunpia Semarang, Apel Malang, dll. 
Demikian banyak jenis makanan khas yang dapat mengangkat nama daerahnya masing-masing yang menjadi kita kenal seperti Bali yang sangat dikenal dibandingkan nama Indonesia sendiri karena objek pariwisatanya tanpa harus merepotkan Bupati maupun Gubernur sudah bermunculan dengan sendirinya.  Ataupun karena kejelian entrepreneur atau pengusaha setempat yang mengetahui banyak kebutuhan akan jenis makanan khas daerah yang sedang dalam perbincangan oleh seorang teman yang sedang mengantar saya menuju ke bandara Adisucipto Yogyakarta dan tiba-tiba tersadarkan jika arus penumpang di bandara tersebut dalam setahun terakhir ini, secara tiba-tiba saja mendadak meningkat pesat sementara untuk kios penjual oleh-oleh dari khas daerahnya masih bertumpuk di bagian pusat kota saja ataupun sekitar stasiun kereta api.
Jadi.. jika adik mahasiswi seperti Anda ini masih belum dapat menemukan ide usaha apa, kemungkinan jadi makanan khas yang menjadi paling dicari ataupun makanan khas yang memiliki embel-embel nama dari daerah mungkin dapat menjadi salah satu dari ide usaha disamping banyaknya ide usaha lain yang dapat ditemukan dengan cara yang sederhana serta selalu ditemukan di sekitar aktifitas Anda sehari-hari.

*Majalah Enterpreneur Indonesia, halaman 22, pada edisi Juli 2005