Pemeliharaan Lightning Arrester

Suatu kegiatan pemeliharaan yang tercantum di dalam buku pedoman di halaman ini merupakan suatu jenis pemeliharaan proactive maintenance, yaitu yang memiliki definisi sebagai pemeliharaan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya failure (kegagalan) atau gangguan dari suatu peralatan. Kegiatan jenis pemeliharan reactive maintenance (kegiatan perbaikan pasca gangguan) merupakan kegiatan pemeliharaan yang tidak termasuk dalam buku halaman ini. Kegiatan jenis pemeliharaan proactive maintenance dapat dibedakan menjadi kegiatan pemeliharaan jenis preventive maintenance dan kegiatan pemeliharaan jenis predictive maintenance.
Preventive maintenance dikenal juga sebagai Time Based Maintenance (TBM). Dalam TBM, kegiatan pemeliharaan dilaksanakan dengan interval tertentu, tanpa memperhatikan apakah kondisi peralatan memang sudah memerlukan tindakan pemeliharaan atau tidak. Termasuk di dalam TBM adalah:

1. Scheduled restoration.
2. Scheduled discard.
Predictive maintenance merupakan kegiatan pemeliharaan yang bertujuan untuk mengetahui kondisi peralatan, termasuk juga kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan berdasarkan kondisi peralatan tersebut. Termasuk di dalam predictive maintenance berikut:
1. Condition monitoring.
2. Condition Based Maintenance (CBM)
3. Lifetime prediction.

Jenis pemeliharaan Preventive maintenance pada Lightning Arrester sebagai contoh dalam pelaksanaannya adalah seperti berikut ini: penggantian LA berdasarkan asesmen hasil ukur LCM.

Jenis pemeliharaan Predictive maintenance pada Lightning Arrester sebagai contoh dalam pelaksanannya adalah seperti berikut ini:
pengukuran arus bocor resistif Lightning Arrester (LCM), perubahan interval pengukuran LCM setelah diketahui kondisi Lightning Arrester “Weak”, pengukuran nilai tahanan insulasi Lightning Arrester.
Di dalam buku pedoman ini, kegiatan predictive maintenance dikelompokkan ke dalam 3 level inspeksi berdasarkan tingkat kesulitan pelaksanaan dan jenjang diagnosa, yaitu:

1. Inspeksi Level-1 (IL-1)
Inspeksi online yang bersifat superficial, yang bertujuan untuk dapat mendeteksi adanya suatu ketidaknormalan atau kelainan ataupun adanya anomali pada peralatan serta menginisiasi inspeksi lanjutan. Untuk kegiatan ini dapat dilaksanakan dengan cara menggunakan alat panca indera yaitu penglihatan; pendengaran; penciuman.

2. Inspeksi Level-2 (IL-2)
Inspeksi online yang memiliki tujuan untuk dapat mengetahui suatu kondisi peralatan atau condition assesment, yang dilaksanakan pada saat kondisi masih bertegangan.
3. Inspeksi Level-3 (IL-3)
Inspeksi offline yang memiliki tujuan untuk dapat mengetahui suatu kondisi peralatan atau condition assesment, yang dilaksanakan pada saat kondisi sedang tidak bertegangan.

Jenis kegiatan inspeksi ditentukan berdasarkan analisis FMEA.